IGS
(International GNSS Service) adalah suatu organisasi internasional yang
merupakan kumpulan dari agensi di seluruh dunia yang mengumpulkan sumber dan
data permanen dari stasion GNSS dan memelihara sistem GNSS. IGS menyediakan
data dan produk berkualitas tinggi yang digunakan untuk kepentingan penelitian
ilmiah, aplikasi multidisiplin, pendidikan, yang merupakan salah satu komponen
kunci penghubung ke ITRF sebagai kerangka realisasi sistem koordinat referensi
global. Setiap negara berkontribusi dalam IGS dengan membangun stasiun-stasiun
IGS di seluruh dunia dan saat ini IGS menangani dua stasiun GNSS, yaitu GPS dan
GLONASS.
CORS
(Continuously Operating Reference Stations) adalah suatu teknologi
berbasis GNSS yang berwujud sebagai suatu jaring kerangka geodetik yang pada
setiap titiknya dilengkapi dengan receiver yang mampu menangkap sinyal dari
satelit-satelit GNSS yang beroperasi secara kontinyu 24 jam per hari, 7 hari
per minggu dengan mengumpulkan, merekam, mengirim data, dan memungkinkan para
pengguna memanfaatkan data untuk penentuan posisi, baik secara post-processing
maupun real-time.
CORS
menyediakan data pengamatan kode (C/A, P1, dan P2) dan data fase (L1 dan L2),
GPS ephemerides, dan koreksi untuk DGPS, model ionosfir, troposfer, dan
lain-lain. Data yang diamati dapat diatur dan disesuaikan dengan keperluan.
Data dapat disimpan per jam atau per hari, dengan selang waktu pengamatan per 1
detik, 5 detik, 10 detik, 15 detik, dan 30 detik, kemudian dikirim melalui
jarring telekomunikasi berkecepatan tinggi ke pusat pengendali jaringan untuk
selanjutnya disimpan, didistibusikan, atau diolah untuk kepentingan lainnya.
Selain menyediakan data-data tersebut, CORS juga menyediakan layanan untuk
pengolahan data GPS secara online, transformasi datum, sistem proyeksi,
dan penentuan tinggi ortometrik, yang semuanya dapat diakses dalam waktu 15
menit sejak pengguna mengirimkan data yang ingin diolah sampai data selesai
diolah dan dikirimkan langsung melalui email kepada pengguna.
Stasiun CORS dibangun permanen dan ditentukan koordinatnya
yang diukur setiap hari, kemudian ditempatkan receiver diatasnya. Jaringan
stasiun CORS dikontrol jarak jauh dan diawasi dengan menggunakan sistem jaminan
kualitas yang diotomatisasi, serta dilakukan pemeliharaan secara ilmiah. Selain
itu sistem CORS terintegrasi dengan International Earth Rotation and
Reference System Service, sehingga memberikan posisi yang bereferensi
global dan datanya dapat diakses lewat internet oleh pengguna.
Tujuan utama dibangun CORS adalah sebagai titik ikat yang
memiliki radius cukup dekat dengan titik pengukuran untuk memperoleh kualitas
data yang baik. Dalam hal titik ikat yang mengacu pada satu referensi global
dengan cakupan luas dan jarak baseline panjang, tidak hanya kerangka
CORS yang dapat dijadikan sebagai referensi dalam pengukuran bidang tanah di
Indonesia. Keberadaan stasiun-stasiun IGS sebenarnya dapat juga dijadikan
sebagai referensi dalam pengukuran batas bidang tanah di Indonesia. Cakupan IGS
sangat luas dan bervariasi jika dibandingkan dengan cakupan dari kerangka CORS
bisa mencapai beberapa ratus kilometer. Namun ada banyak kendala jika kita
menggunakan IGS sebagai titik ikat langsung pengukuran bidang tanah. Selain
akan mempengaruhi nilai ketelitian yang dihasilkan dikarenakan jarak yang jauh,
pengolahan data dari pengukuran yang terikat pada IGS juga membutuhkan
kemampuan perangkat lunak yang memadai dan tidak mudah dalam pengolahannya.
Untuk itu diperlukan SDM (Sumber Daya Manusia) yang memadai dan berkualitas
agar strategi pengolahan data yang diterapkan dapat menghasilkan data yang
berkualitas.
Karena CORS digunakan sebagai titik acuan yang digunakan
untuk berbagai aplikasi yang menuntut ketelitian tinggi, posisi CORS sendiri
harus memiliki kualitas yang baik. Posisinya terus dipantau dan terus
diperbaharui terutama jika terjadi pergerakan di bawah tanah tempat stasiun
CORS berada, CORS mampu mengakomodir adanya pergerakan lempeng dalam skala
lokal maupun global, dan ditentukan dengan mengolah data dari stasiun-stasiun
CORS lain yang merupakan bagian dari jaringan CORS global yang sudah ada,
dengan metode double-difference untuk mengeliminir kesalahan jam atom
pada satelit GPS.
Prediksi IGS Ultra rapid berdasarkan dari data 25
sampai 40 jaringan stasiun. Dengan 2 kali sehari pembaruan data (di internet
setiap selang 3 jam). Mempunyai Ephemeris 24 jam ERD kurang dari 10 cm dan
kesalahan prediksi selama 2 jam kurang dari 20 cm.
IGS Ultra Rapid termasuk pesan NAV
yang sesuai dengan data kesalahan dalam bentuk SP-3 format secara dual
presisi, dan bila menunjukkan kesalahan maka tidak akan menunjukkan tanda
orbit. Berapa kelebihan yang didapatkan bila IGS Ultra Rapid digunakan secara
bersamaan dengan GPS generasi 3 (yang memiliki L1, L2, dan L5) antara lain:
1.
Kalibrasi kesalahan waktu ( < 1 ns dengan pengolahan data yang
baik )
2.
Pengkoreksian kesalahan ynag disebabkan Ionosfer menggunakan Model
Broadcast ( << 1 ns, Pengukuran Dual or Three Frequency)
3.
Pengkoreksian GPS Broadcast Clock ( < 1 ns, AOD rendah)
4.
Pengkoreksian GPS Broadcast Orbit ( < 1 ns, AOD rendah)
5.
Koreksi kesalahan jumlah pesan navigasi GPS ( < 0.1 ns )
6.
Mampu mengurangi kesalahan multipath ( << 1 – ns,
dengan sedikit bantuan antena serta penerima sinyal yang baik )
7.
Dapat mengurangi kesalahan estimasi dari pengukuran yang
disebabkan oleh Troposfer. ( < 1 ns)
8.
Mampu mengkoreksi efek kesalahan yang ada di bumi akibat posisi
pengguna atau receiver GPS. ( < 0.1 ns, menggunakan Earth Tide
Models)
9.
Multi-channel Receiver Noise ( << 1 ns )
Utilitas
dari IGS adalah sedemikian rupa sehingga sangat penting untuk definisi dan
pemeliharaan Internasional Terestrial Reference System (dan "realisasi
bingkai" berbagai ITRF92, ITRF94, ITRF96, dll).
Daftar
pustaka:
http://titikcerah.wordpress.com/2011/03/26/igs-ultra-rapid-rapid-final-orbit/